Berita INSISTS

Islamia-Republika 20 September 2012

 Ingin memahami makna Radikal, Moderat dan seluk beluknya, baca Republika (Rubrik Islamia-Republika) besok Kamis, 20 September 2012. Anda akan membaca artikel-artikel menarik:

1. Menjernihkan Makna ‘Moderat’ (Tiar Anwar Bachtiar)
2. ‘Moderat’ dalam Akidah (Abduh Zulfidar Akaha)
3. ‘Moderat’ dalam Fikih (Ahmad Sarwat)
4. Menjinakkan Muslim Jawa (Susiyanto)
5. Radikalisme dalam Liberalisme (Akmal Sjafril)
6. Resensi Buku ‘Adab dan Peradaban, Karya Pengi’tirafan
    untuk Syed M Naquib al Attas’ (Nuim Hidayat)
7. Ummatan Wasatan (Hamid Fahmy Zarkasyi)

*Rubrik Khusus Islamia Republika 4 halaman, terbit tiap bulan (Kamis), kerjasama Harian Republika dan Insists. Info lebih lanjut hubungi: 081382357453, 081808342046, 021-7940381.

Qunut Nazilah Untuk Irshad Manji

 

Kedatangan lesbi Irshad Manji memicu beragam reaksi umat Islam. Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albab Bogor, Selasa (8/5/2012) malam menggelar doa qunut nazilah atas kehadiran pegiat lesbi Irshad Manji. Qunut Nazilah dipimpin oleh Imam Masjid al-Hijri Universitas Ibn Khaldun Bogor, KH Dr. Ahmad Alim, MA.

Usai shalat Maghrib dan pembacaan Qunut Nazilah, Ahmad Alim menjelaskan sejumlah musibah dan fitnah yang menimpa umat Islam Indonesia, seperti usaha legalisasi paham Kesetaraan Gender di DPR, dan juga didatangkannya tokoh lesbi Irshad Manji yang mendukung aktivitas Salman Rushdie, penulis novel The Satanic Verses yang menghujat Nabi Muhammad SAW.

Read more...

Gus Hamid: “Umat Islam Harus Berwajah Intelektual”

Orasi ilmiah sekaligus peluncuran buku terbaru Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil  berjudul “MISYKAT: Refleksi tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi” Ahad kemarin (15/04/2012) menarik berbagai kalangan tokoh dan aktifis di Jawa Timur.

Sirikit Syah, MA – salah seorang penulis produktif-- mengapresiasi buku MISYKAT. Dalam sambutannya mewakili ICMI Jatim ia terus terang mengatakan tema ini cerah dan mencerahkan. “Temanya menarik, sayang kalau acara ini saya lewatkan,” sambutnya dengan semangat.

Dalam acara yang diadakan di hotel ELMI Surabaya ini, Gus Hamid demikian Hamid Fahmy Zarkasyi akrab dipanggil berhasil memukau hadirin.

Bernas, kronologis, dipadu nalar yang tajam dan renyah, mirip gaya tulisannya di MISYKAT. Meskipun tema-tema yang dibahas tergolong berat, tapi Gus Hamid menyampaikannya dengan lancar-mengalir dan mudah dipahami.

Read more...

Tenggelamnya Cak Nur, Terbitlah "Gus Hamid"

Sekitar 150 hadirin, Ahad (01/04/2012) pagi meghadiri peluncuran buku berjudul “MISYKAT: REFLEKSI TENTANG ISLAM, WESTERNISASI, DAN LIBERALISASI” karya Dr. Hamid Fahmi Zarkasy  di Majid Darussalam Kompleks Griya Tugu Asri, Cimanggis, Depok.

Masjid yang terletak di Kota Depok ini memang dikenal sebagai masjid yang sangat aktif dan sering dijadikan acara berkaiatan dengan isu-isu dan pemikiran Islam.

Dr Hamid Fahmi Zarkasy menjelaskan dalam pidatonya bahwa buku ini merupakan kumpulan artikel-artikel dari berbagai media massa yang ia tulis.  Di antaranya kumpulan tulisan di Jurnal ISLAMIA, Harian Republika, Majalah Hidayatullah, Sabili, situs hidayatullah.com dan beberapa media lain.

Buku ini terbitan INSISTS berjumah 300 halaman ini berisi dengan artikel-artikel yang sederhana dan ringkas.  Judul-judul dari buku ini di antaranya; Timur, Barat, Worldview, Sekularisme dsb

“Isinya sengaja dibuat sederhana dalam rangka untuk menyederhanakan berbagai pergolakan pemikiran yang berkembang, terutama pemikiran-pemikiran yang perlu diluruskan menuju aqidah dan pemikiran Islam yang benar, “ ujarnya.

Read more...

Ayat-ayat Bible Banyak Menindas Perempuan

Menurut pakar di Barat, bible dijadikan justifikasi utuk mengambarkan ketertindasan perempuan. Ayat-ayat bible yang begitu rasis mendorong sejumlah feminis memberontak. Salah satunya dilakukan oleh Elizabeth Cady Stanton dengan cara membuat bible tandingan, yang bernama Women’s Bible.

“Women's Bible itu diselesaikan dalam 2 jilid dan dibuat selama lima tahun. Disitu ayat-ayat yang menindas perempuan itu dikomentari,” kata Henry Shalahuddin kepada Eramuslim.com, Rabu (21/12) seusai mengisi seminar Feminisme dan Realitas Sosial: Dulu, Kini, dan Nanti di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ayat-ayat yang sangat menghinakan perempuan tersebar disejumlah ayat seperti Sirakh 42:14, 25:19. Yehezkiel 23:19-21. Kejadian 3:16. Bahkan dalam bible, adegan-adegan seksual secara kronologis dijelaskan secara literal. Diskriminasi itu kemudian berdampak pada konstruk sosial terhadap wanita di Barat. Implikasinya ada kebiasaan di Barat dimana umpatan-umpatan selalu berkonotasi kepada perempuan.

Read more...

Tamu Istimewa INSISTS

Hari Sabtu (10/12/2011), Insists mendapat kunjungan istimewa. Pagi itu, sekitar pukul 08.40, datang ke kantor Insists di Jln Kalibata Utara II/84 Jaksel, rombongan dari Pesantren Abu Hurairah Madura. Mereka terdiri atas 31 santri, sejumlah ustadz, dan dipimpin langsung oleh Mudir Ma’had, yaitu KH Haitami. Kehadiran mereka disambut oleh Peneliti Insists Dr. Adian Husaini dan Dr. Mukhlis Hanafi. Mereka singgah di Insists dalam rangkaian acara yang diberi nama “Rihlah Tarbawiyah”.

Pesantren Abu Hurairah berlokasi di Pulau Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura. Berdiri tahun 1974. Kini memiliki sekitar 1.000 santri. Menurut Kyai Haitami, Pesantren ini berdiri atas saran dari pendiri Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Mohammad Natsir.

Menurut Kyai Haitami, untuk sampai ke Insists, mereka menempuh perjalanan selama tiga hari. Dari Sapeken ke Pulau Madura, mereka harus berlayar selama 20 jam. Pulau Sapeken dihuni sekitar 10.000 jiwa dan luasnya hanya sekitar 3 km pesegi. Pulau ini dikelilingi sekitar 53 pulau kecil-kecil lainnya.

Read more...

Benarkah Nusantara Telah Dikenal di Jaman Nabi?

Benarkan pulau Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah saw semasa hidup, serta telah dilalui dan disinggahi para pedagang dan pelaut Arab di masa itu? Pernyataan ini diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction”.

Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning. Metode ini, ungkap al-Attas, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.

Ada dua fakta yang al-Attas gunakan untuk sampai pada kesimpulan di atas.

Read more...

International Seminar: Sejarah dan Peranan Islam dalam Pembangunan dan Kesatuan Bangsa

Bertempat di ruang Anggrek Hotel Gren Alia Cikini, INSISTS bekerjasama dengan CASIS-UTM menyelenggarakan seminar internasional bertajuk ‘Sejarah dan Peranan Islam dalam Pembangunan dan Kesatuan Bangsa’. Acara yang berlangsung selama satu hari pada Senin 14 Nopember 2011 menghadirkan beberapa pembicara berkaliber dunia dalam bidangnya. Diantaranya adalah  Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud yang didaulat sebagai keynote speaker. Menurut beliau, pudarnya bahasa Melayu tidak terlepas dari peran sistem pendidikan kolonialisme yang memaksakan bahasa Inggris. Kejadian ini berlangsung sistematis dimana Kolonialis Inggris banyak melantik para cendekiawan dan bupati yang terampil dalam bahasa Inggris.

Implikasi dari kebijakan ini ternyata tidak sepele. Umat muslim Melayu akhirnya kehilangan keterampilan untuk mengenali peradabannya sendiri. Dan pada gilirannya jarak antara Muslim Melayu dengan khazanah keilmuannya menjadi terputus.

Read more...

Revitalisasi Turats Fikih

Para ulama Islam banyak meninggalkan karya berharga berupa buku-buku yang telah membangun peradaban dunia tujuh abad lamanya. Karya-karya itu kemudian mereka wariskan kepada generasi setelahnya: untuk diolah kembali guna membangun peradaban manusia yang lebih unggul dan berwibawa. Bukti dari itu adalah peradaban Islam yang pernah membentang dari Baghdad ke Persia, dari Andalusia (Spanyol) ke India bahkan sampai ke Indonesia.

Buku-buku yang menceritakan itu sangat banyak. Lihat, misalnya peradaban Islam di Baghdad dalam Hadharat al-`Iraq, 13 Jilid (Baghdad, 1985) yang ditulis oleh sekian pakar sejarah dan peneliti Iraq sendiri.

Mengenai peradaban Islam di Andalusia, jejak-rekamnya dapat dilacak dalam karya Muhammad Abdullah `Annan, Dawalat al-Islam fi al-Andalus `Ashar al-Muwahhidin (Mesir: al-Hay’ah al-Mishriyyah al-`Ammah li al-Kitab, 2002). Bahkan, mengenai peradaban Islam di Spanyol, orientalis William Montgomery Watt menulis satu buku menarik, Fi Tarikh Isbaniyah al-Islamiyyah, Terj. Dr. Muhammad Ridha al-Mishri (Beirut-Lebanon: Syarikat al-Mathbu`at li al-Tawzi` wa al-Nasyr, cet. II, 1998 M).

Read more...

Konferensi Peradaban

Dalam rangka mengembangkan misi hubungan antar peradaban yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian, Bibliotheca Alexandrina menggelar konferensi yang bertajuk “Ta’aruf al-Khadharaat”. Konferensi ini berlangsung selama dua hari, 18-19 Mei 2011, di Bibliotheca Alexandria (Maktabah Iskandariyah) dan dihadiri oleh para akademisi dari 18 negara-negara Islam dan Arab. Turut menyukseskan acara ini dua lembaga pendidikan Mesir, yakni Pusat Studi Kebudayaan & Dialog Peradaban Fakultas Ekonomi dan Ilmu Politik Universitas Kairo, dan “Markaz al-Hiwar” Universitas al-Azhar. Tidak kurang dari 17 pembicara dihadirkan dari 7 negara-negara Islam, seperti: Mesir, Maroko, Algeria, Tunisia, Turki, Iran dan Saudi Arabia untuk mengulas seputar masalah peradaban dan pemikiran Islam.

Istilah ta’aaruf adalah istilah Qur’ani yang berarti saling mengenal. Allah berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Hujurat: 12)

Read more...

Antara Islam dan Ham

Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan sebuah wujud hegemoni, demikian salah satu poin yang menjadi pokok bahasan Diskusi Rutin Sabtuan INSISTS, 15 Januari 2011. Kajian bertema “Pandangan Islam terhadap Hak Asasi Manusia” ini menghadirkan DR. Saharuddin Daming, dari subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM, selaku pembicara. Pada bagian awal diskusi, pembicara mengungkapkan pantauannya bahwa penanganan terorisme seringkali cenderung mengarah pada pelanggaran HAM.

Selanjutnya, pembicara menjelaskan bahwa aliran pemikiran Human Rights selalu dimulai dengan klaim bahwa nilai Human Rights adalah universal. Misalnya menyangkut persoalan keadilan, persamaan, dan kebebasan. Nilai-nilai ini dianggap sebagai nilai universal yang tidak bisa dicabut dari seseorang. Namun ternyata banyak juga nilai-nilai luhur lain yang tidak terakomodasi diantaranya meliputi nilai-nilai lokal yang pada titik tertentu juga bersifat universal seperti kesopanan, kejujuran, dan sejenisnya yang tidak terakomodasi dalam HAM. Oleh karena itu sifat universal HAM menjadi bias.

Dengan berpatokan terhadap prinsip universalitas ini, HAM tidak jarang digunakan untuk melakukan penyeragaman. Hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak HAM dianggap keliru. HAM dijadikan sebagai ukuran modernitas dan dianggap sebagai tata nilai global atau wujud dari “tata dunia baru”. Nilai-nilai lokal bisa saja tergeser. Jadi, universalisme dan absolutisme HAM adalah wujud hegemoni. Masyarakat dunia secara umum menjadi kurang kritis terhadap nilai ini, sebab pemikiran lokal yang mereka miliki cenderung telah menjadi rapuh.

Menyikapi “ketidaksempurnaan” HAM ini, pembicara justru mengajak umat Islam untuk memantau dan mengawal praktik HAM di Indonesia. Tanpa adanya penguasaan yang memadai terhadap “tata nilai” baru ini, keadaan bisa saja berakibat buruk. “Ketidaksempurnaan” HAM bisa menjadi bola liar yang siap menghantam apa dan siapa saja tanpa terkecuali.